A. Judul
Penelitian
Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Dengan Menggunakan
Pendekatan Matematika Realistik Pada Pembelajaran Matematika Kelas IV Sekolah
Dasar Negeri 05 Jawai
B. Latar Belakang
Pendidikan dan pengajaran adalah salah satu usaha yang
bersifat sadar tujuan dengan sistematis terarah pada perubahan tingkah laku
menuju ke kedewasaan peserta didik. Pengajaran merupakan proses yang berfungsi
membimbing para pebelajar/siswa dalam kehidupan, yakni membimbing mengembangkan
diri sesuai dengan tugas perkembangan yang harus dijalankan oleh para siswa
itu. Disinilah saat munculnya seorang guru yang bertugas menyediakan bahan
pelajaran, dan yang mengolah serta mencernanya adalah para siswa sesuai dengan
bakat, kemampuan, dan latar belakang masing-masing siswa.
Menurut Anita (2010:4) pendidik perlu menyusun dan
melaksanakan kegiatan belajar mengajar berdasarkan beberapa pokok pemikiran
sebagai berikut.
1.
Pengetahuan
ditemukan, dibentuk dan dikembangkan oleh siswa.
2.
Siswa
membangun pengetahuan secara aktif
3.
Pengajar
perlu berusaha mengembangkan kompetensi dan kemampuan siswa
4.
Pendidikan
adalah interaksi pribadi diantara para siswa dan interaksi antara guru dan
siswa
Pembelajaran
matematika merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional. Berdasarkan kurikulum tentang
standar isi, bertujuan agar siswa mampu memahami konsep matematika, menjelaskan
keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara
luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah.
Matematika merupakan salah satu
cabang ilmu yang sangat penting, sehingga diajarkan mulai dari jenjang SD
sampai dengan perguruan tinggi (minimal sebagai mata kuliah umum). Sampai saat
ini matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang selalu masuk dalam
daftar mata pelajaran yang diujikan secara nasional, mulai dari tingkat SD
sampai dengan SMA. Bagi siswa, selain untuk menunjang dan mengembangkan ilmu-ilmu lainnya, matematika
juga diperlukan untuk bekal terjun dan bersosialisasi dalam kehidupan
bermasyarakat.
Mata pelajaran Matematika perlu
diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali
peserta didik dengan kemampuan berfikir logis, analitis, sistematis, kritis dan
kreatif serta kemampuan bekerja sama. Kompetensi tersebut diperlukan agar
peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan
informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti,
dan kompetitif. Untuk menguasai,
menciptakan teknologi, kemampuan berikir logis, analitis,
sistematis, kritis, dan kreatif dimasa depan, maka diperlukan penguasaan
matematika yang kuat sejak dini dan pembelajaran yang membuat siswa belajar
jadi bermakna.
Menurut Yunsirno (2010:91),” bahwa matematika adalah perpaduan keakuratan ilmu
alam dan intensitas latihan ala skill. Belajar matematika akan sangat menarik
jika banyak contoh-contoh soal yang pemakaiannya lebih aplikatif. Para murid
harus tahu bagaimana menerapkan aritmatika dalam perdagangan. Mereka pun
harus tau kapan misalnya memakai kalkulus dan matriks dalam kehidupan
sehari-hari. Jadi siswa bukan menghafal rumus, tetapi mencari cara memecahkan
masalah potensial di masa depannya”.
Dalam belajar sangat diperlukan
aktivitas, sebab pada
prinsipnya belajar adalah berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah laku jadi
melakuan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas.
Siswa sebagai sentral, maka
aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi belajar
mengajar. Aktivitas siswa dalam hal ini, baik secara fisik, mental, maupun
emosional aktif, sebab para siswa yang belajar, maka mereka yang harus
melakukan dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Siswa
sekolah dasar dipandang sebagai individu (subjek) yang memiliki pengetahuan dan
pengalaman sebagai hasil
interaksinya. Oleh karena itu diyakini pula bahwa siswa memiliki potensi untuk
mengembangkan sendiri pengetahuannya, dan bila diberi kesempatan mereka akan
dapat mengembangkan sendiri pengetahuannya dan pemahaman mereka tentang
matematika. Melalui eksplorasi berbagai masalah, baik masalah kehidupan
sehari-hari maupun masalah matematika, siswa
dapat mengonstruksi kembali temuan-temuan dalam bidang matematika.
Seorang
pakar pendidikan, Trinandita (1984) menyatakan bahwa ” Hal yang paling mendasar yang
dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan siswa”. Keaktifan siswa
dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru
dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan
suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing - masing siswa dapat
melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yang timbul dari siswa
akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan
mengarah pada peningkatan prestasi.
Diantara
berbagai kesulitan belajar yang dihadapi anak SD, matematika merupakan satu
diantaranya, terlebih lagi isu yang beredar di masyarakat
bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dan menakutkan. Untuk mengatasi permasalahan dalam
pembelajaran matematika di SD harus diciptakan pembelajaran yang aktif,
inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) dengan menggunakan
berbagai media, strategi, metode dan pendekatan pembelajaran yang tepat. Seorang
guru harus kreatif memanfaatkan dunia nyata disekitar sekolah atau tempat
tinggal untuk merancang pembelajaran matematika yang menyenangkan bagi siswa,
dengan mengeksplorasi masalah-masalah nyata. Guru tidak boleh hanya terpaku
pada materi dalam kurikulum dan buku teks siswa, tetapi harus terus menerus
memutakhirkan materi dengan masalah-masalah baru dan dekat dengan kehidupan
siswa. Apabila berbagai pendekatan,
media, dan metode telah tersampaikan secara tepat, ditambah tujuan yang jelas,
menantang dan menarik, sehingga akan membuat proses belajar betul-betul sebuah
pembelajaran, bukan pura-pura belajar yang malah mengakibatkan munculnya beban,
keterpaksaan, kebencian, dan akhirnya terjadi kegagalan dalam pembelajaran
matematika.
Namun
yang terjadi dilapangan cara penyampaian materi matematika masih jauh dari yang
diharapkan, pembelajaran yang cenderung berpusat pada guru dan siswa hanya
menerima pelajaran secara pasif sehingga
pembelajaran didominasi oleh guru, guru tidak memberi kesempatan kepada siswa
untuk akif berbuat dan melakukan sendiri sehingga mereka tidak memperoleh
pengalaman yang berarti. Guru kadang menyampaikan materi dengan metode ceramah
kemudian siswa diberi tugas menyelesaikan soal-soal, bahkan juga pernah
ditemukan materi pembelajaran yang bisa di ajarkan dengan menggunakan media
kongkrit namun diajarkan dalam bentuk hafalan dan akhirnya matematika menjadi
“ilmu yang mengerikan” bagi banyak siswa. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, masih
banyak siswa yang kurang aktif, ini ditunjukan dengan tendahnya persentase
aktifitas siswa dalam proses pembelajaran, dari 38 orang siswa yang melakukan
aktifitas fisik hanya 48,69%, yang melakukan aktivitas mental hanya 22,11%, dan
yang melakukan aktifitas emosional hanya 10,53%.. Pembelajaran
yang tidak disesuaikan dengan konteks dan kondisi nyata kehidupan siswa
sehingga mereka menganggap kurang bermakna dalam keseharian.
Guru cenderung memberikan
materi yang berorientasi agar siswa dapat mengerjakan soal dengan lancar dan
mendapatkan nilai yang
memuaskan. Pembelajaran yang dilakukan di sekolah tidak terlepas dari
pendekatan yang dilakukan guru, dan pendekatan tersebut biasanya dipengaruhi
pemahaman guru tentang sifat matematika, bukan oleh apa yang di yakini paling
baik untuk proses pembelajaran matematika di kelas. Guru memandang matematika sebagai produk yang
sudah jadi akan mengarahkan proses pembelajaran siswa untuk menerima
pengetahuan yang sudah jadi. Guru akan cenderung mengisi pikiran siswa dengan
sesuatu yang sudah jadi. Sementara, guru yang memandang matematika merupakan
suatu proses akan lebih menekankan aspek proses dalam pembelajaran matematika.
Tidak dapat dipungkiri bahwa
dalam kehidupan matematika mempunyai fungsi yang penting dalam kehidupan
sehari-hari, bahkan kemajuan sains dan teknologi. Dalam hal ini sering
ditemukan tentang bilangan-bilangan Matematika sebagai obyek abstrak, yang
tentunya sulit di cerna oleh siswa sekolah dasar yang oleh piaget
dikualifikasikan masih dalam tahap berfikir operasional kongkrit. Siswa sekolah
dasar masih belum mampu berfikir formal karena orientasinya masih terkait
dengan benda-benda kongkrit. Maka dari pada itu pembelajaran matematika
diarahkan kepada situasi permasalahan yang nyata (realistik)
Menurut Dolk (dalam Aisyah, 2007:7.3) “bahwa kelas
matematika bukan tempat memindahkan matematika dari guru ke siswa, melainkan
tempat siswa menemukan kembali ide dan konsep matematika melalui eksplorasi
masalah-masalah nyata”. Maka untuk menciptakan suatu pembelajaran yang berpusat
pada siswa dengan berorientasi pada masalah-masalah dan dunia nyata yang dekat
dengan kehidupan siswa dengan kata lain untuk mematematikakan dunia nyata agar
sisiwa dapat mengaitkan konsep matematika dengan pengalaman yang dialaminya
adalah dengan Realistic Mathematic Education (RME) yang lebih dikenal dengan
pendekatan matematika realistik, yakni pendekatan yang memandang kegiatan
manusia dan harus dikaitkan dengan realitas. Artinya, matematika harus dekat
dan relevan dengan kehidupan siswa sehari-hari, selanjutnya pembelajaran matematika
dikemas sebagai preoses “penemuan kembali terbimbing”. Disini siswa dapat
mengalami proses yang sama dengan proses penemuan ide dan konsep matematika.
Hal ini merupakan suatu upaya yang
diperkirakan dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa.
C.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah dipaparkan maka yang menjadi permasalahan dalam
penelitian ini adalah: Apakah Pendekatan Matematika Realistik dapat
meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IV SDN No.05 Jawai?
Dari
masalah umum maka dijabarkan lagi ke dalam sub-sub masalah sebagai berikut.
1. Apakah
pendekatan matematika realistik dapat meningkatkan aktivitas fisik siswa kelas
IV SDN No.05 Jawai?
2. Apakah
pendekatan matematika realistik dapat meningkatkan aktivitas mental siswa kelas
IV SDN No.05 Jawai?
3. Apakah
pendekatan matematika realistik dapat meningkatkan aktivitas emosional siswa
kelas IV SDN No05 Jawai?
D.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah dan sub masalah maka yang menjadi fokus tujuan dalam penelitian
ini melalui pendekatan matematika realistik adalah:
1. Untuk
memperoleh informasi yang akurat mengenai penggunaan pendekatan matematika
realistik sehingga dapat meningkatkan
aktivitas fisik siswa kelas IV SDN No.05 Jawai,
2.
Untuk memperoleh informasi yang akurat
mengenai penggunaan pendekatan matematika realistik sehingga dapat meningkatkan
aktivitas mental siswa kelas IV SDN No.05 Jawai,
3. Untuk
memperoleh informasi yang akurat mengenai penggunaan pendekatan matematika
realistik sehingga dapat meningkatkan
aktivitas emosional siswa kelas IV SDN No.05 Jawai
E.
Metodologi Penelitian
1.
Metode
dan Bentuk Penelitian Yang Digunakan
a.
Metode
Penelitian
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini
adalah metode deskriptif. Metode deskriptif
yakni prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan
keadaan obyek/subyek berdasarkan fakta-fakta yang tampak.
b.
Bentuk
Penelitian
Bentuk penelitian yang digunakan pada penelitian
ini adalah survey (survey studies)
dengan jenis survey kelembagaan (Institutional Survey).
2.
Setting
dan Subyek Penelitian
a.
Setting
Penelitian
Setting
yang digunakan pada penelitian ini adalah setting di dalam kelas karena
berkaitan dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas.
b.
Subyek
Penelitian
Subyek
penelitian ini adalah siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 05 Jawai.
Total
siswa kelas IV : 38 orang
Jumlah
siswa laki-laki : 20 orang
Jumlah siswa perempuan
: 18 orang
3. Teknik dan Alat Pengumpul Data
a.
Teknik
Pengumpul Data
Penelitian ini menggunakan teknik observasi dan teknik
komunikasi. Teknik observasi yang digunakan adalah teknik langsung yang
meliputi observasi partisipan dan non partisipan.
b.
Alat
Pengumpul Data
Alat pengumpul data yang digunakan pada penelitian ini
sesuai dengan teknik yang telah dipilih yaitu observasi dan komunikasi, maka
alat pengumpul data yang digunakan untuk memperoleh informasi pada penelitian
ini adalah lembar lembar observasi yang menjadi alat utama dalam mengumpulkan
informasi serta penggunaan wawancara dan angket kepuasan sebagai penunjang
lembar observasi untuk lebih memperkuat informasi yang akan diperoleh.
3. Teknik Analisis Data
Sesuai dengan penelitian ini, adapun teknik analisis data
yang digunakan ialah mengumpulkan persentase data kualitatif yang diperoleh
dari hasil observasi pada siklus I dan siklus II yang kemudian dibandingkan
dengan data kualitatif yang diperoleh pada saat observasi awal (baseline), apakah
terdapat peningkatan atau penurunan dan kemudian ditarik kesimpulan dari
keseluruhan persentase data yang diperoleh.
4. Langkah-Langkah
Tindakan
Adapun secara umum langkah-langkah tindakan yang dilakukan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.
Langkah persiapan
dengan menetapkan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan
pembelajaran, materi, dan media pembelajaran yang akan digunakan untuk
melaksanakan penggunaaan pendekatan matematika
realistik dalam pembelajaran matematika.
b.
Menyusun rencana
pelaksanaan pembelajaran tentang penggunaan pendekatan matematika
realistik dalam pembelajaran matematika.
c.
Melaksanakan
pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan matematika
realistik.
d.
Membimbing siswa
untuk berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan pembelajaran matematika realistik.
e.
Menghentikan
pembelajaran setelah penggunaan pendekatan matematika realistik telah selesai
dilakukan.
f.
Merefleksi proses
pembelajaran yang menggunakan pendekatan matematika realistik yang telah berlangsung.
g.
Menyimpulkan hasil
pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar