Jumat, 13 Juni 2014

Contoh Outline



A.  Judul Penelitian
Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Dengan Menggunakan Pendekatan Matematika Realistik Pada Pembelajaran Matematika Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 05 Jawai


B.  Latar Belakang
Pendidikan dan pengajaran adalah salah satu usaha yang bersifat sadar tujuan dengan sistematis terarah pada perubahan tingkah laku menuju ke kedewasaan peserta didik. Pengajaran merupakan proses yang berfungsi membimbing para pebelajar/siswa dalam kehidupan, yakni membimbing mengembangkan diri sesuai dengan tugas perkembangan yang harus dijalankan oleh para siswa itu. Disinilah saat munculnya seorang guru yang bertugas menyediakan bahan pelajaran, dan yang mengolah serta mencernanya adalah para siswa sesuai dengan bakat, kemampuan, dan latar belakang masing-masing siswa.
Menurut Anita (2010:4) pendidik perlu menyusun dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar berdasarkan beberapa pokok pemikiran sebagai berikut.
1.        Pengetahuan ditemukan, dibentuk dan dikembangkan oleh siswa.
2.        Siswa membangun pengetahuan secara aktif
3.        Pengajar perlu berusaha mengembangkan kompetensi dan kemampuan siswa
4.        Pendidikan adalah interaksi pribadi diantara para siswa dan interaksi antara guru dan siswa
Pembelajaran matematika merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional. Berdasarkan kurikulum tentang standar isi, bertujuan agar siswa mampu memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah.

Matematika merupakan salah satu cabang ilmu yang sangat penting, sehingga diajarkan mulai dari jenjang SD sampai dengan perguruan tinggi (minimal sebagai mata kuliah umum). Sampai saat ini matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang selalu masuk dalam daftar mata pelajaran yang diujikan secara nasional, mulai dari tingkat SD sampai dengan SMA. Bagi siswa, selain untuk menunjang dan mengembangkan ilmu-ilmu lainnya, matematika juga diperlukan untuk bekal terjun dan bersosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat.
Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berfikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Untuk menguasai, menciptakan teknologi, kemampuan berikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif dimasa depan, maka diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini dan pembelajaran yang membuat siswa belajar jadi bermakna.
Menurut Yunsirno (2010:91),” bahwa matematika adalah perpaduan keakuratan ilmu alam dan intensitas latihan ala skill. Belajar matematika akan sangat menarik jika banyak contoh-contoh soal yang pemakaiannya lebih aplikatif. Para murid harus tahu bagaimana menerapkan aritmatika dalam perdagangan. Mereka pun harus tau kapan misalnya memakai kalkulus dan matriks dalam kehidupan sehari-hari. Jadi siswa bukan menghafal rumus, tetapi mencari cara memecahkan masalah potensial di masa depannya”.
Dalam belajar sangat diperlukan aktivitas, sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah laku jadi melakuan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Siswa sebagai sentral, maka aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi belajar mengajar. Aktivitas siswa dalam hal ini, baik secara fisik, mental, maupun emosional aktif, sebab para siswa yang belajar, maka mereka yang harus melakukan dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Siswa sekolah dasar dipandang sebagai individu (subjek) yang memiliki pengetahuan dan pengalaman sebagai hasil interaksinya. Oleh karena itu diyakini pula bahwa siswa memiliki potensi untuk mengembangkan sendiri pengetahuannya, dan bila diberi kesempatan mereka akan dapat mengembangkan sendiri pengetahuannya dan pemahaman mereka tentang matematika. Melalui eksplorasi berbagai masalah, baik masalah kehidupan sehari-hari maupun masalah matematika, siswa   dapat mengonstruksi kembali temuan-temuan dalam bidang matematika.
Seorang pakar pendidikan, Trinandita (1984) menyatakan bahwa ” Hal yang paling mendasar yang dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan siswa”. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing - masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.
Diantara berbagai kesulitan belajar yang dihadapi anak SD, matematika merupakan satu diantaranya, terlebih lagi isu yang beredar di masyarakat bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dan menakutkan. Untuk mengatasi permasalahan dalam pembelajaran matematika di SD harus diciptakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) dengan menggunakan berbagai media, strategi, metode dan pendekatan pembelajaran yang tepat. Seorang guru harus kreatif memanfaatkan dunia nyata disekitar sekolah atau tempat tinggal untuk merancang pembelajaran matematika yang menyenangkan bagi siswa, dengan mengeksplorasi masalah-masalah nyata. Guru tidak boleh hanya terpaku pada materi dalam kurikulum dan buku teks siswa, tetapi harus terus menerus memutakhirkan materi dengan masalah-masalah baru dan dekat dengan kehidupan siswa. Apabila  berbagai pendekatan, media, dan metode telah tersampaikan secara tepat, ditambah tujuan yang jelas, menantang dan menarik, sehingga akan membuat proses belajar betul-betul sebuah pembelajaran, bukan pura-pura belajar yang malah mengakibatkan munculnya beban, keterpaksaan, kebencian, dan akhirnya terjadi kegagalan dalam pembelajaran matematika.
Namun yang terjadi dilapangan cara penyampaian materi matematika masih jauh dari yang diharapkan, pembelajaran yang cenderung berpusat pada guru dan siswa hanya menerima pelajaran  secara pasif sehingga pembelajaran didominasi oleh guru, guru tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk akif berbuat dan melakukan sendiri sehingga mereka tidak memperoleh pengalaman yang berarti. Guru kadang menyampaikan materi dengan metode ceramah kemudian siswa diberi tugas menyelesaikan soal-soal, bahkan juga pernah ditemukan materi pembelajaran yang bisa di ajarkan dengan menggunakan media kongkrit namun diajarkan dalam bentuk hafalan dan akhirnya matematika menjadi “ilmu yang mengerikan” bagi banyak siswa. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, masih banyak siswa yang kurang aktif, ini ditunjukan dengan tendahnya persentase aktifitas siswa dalam proses pembelajaran, dari 38 orang siswa yang melakukan aktifitas fisik hanya 48,69%, yang melakukan aktivitas mental hanya 22,11%, dan yang melakukan aktifitas emosional hanya 10,53%.. Pembelajaran yang tidak disesuaikan dengan konteks dan kondisi nyata kehidupan siswa sehingga mereka menganggap kurang bermakna dalam keseharian.
Guru cenderung memberikan materi yang berorientasi agar siswa dapat mengerjakan soal dengan lancar dan mendapatkan nilai yang memuaskan. Pembelajaran yang dilakukan di sekolah tidak terlepas dari pendekatan yang dilakukan guru, dan pendekatan tersebut biasanya dipengaruhi pemahaman guru tentang sifat matematika, bukan oleh apa yang di yakini paling baik untuk proses pembelajaran matematika di kelas.  Guru memandang matematika sebagai produk yang sudah jadi akan mengarahkan proses pembelajaran siswa untuk menerima pengetahuan yang sudah jadi. Guru akan cenderung mengisi pikiran siswa dengan sesuatu yang sudah jadi. Sementara, guru yang memandang matematika merupakan suatu proses akan lebih menekankan aspek proses dalam pembelajaran matematika.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan matematika mempunyai fungsi yang penting dalam kehidupan sehari-hari, bahkan kemajuan sains dan teknologi. Dalam hal ini sering ditemukan tentang bilangan-bilangan Matematika sebagai obyek abstrak, yang tentunya sulit di cerna oleh siswa sekolah dasar yang oleh piaget dikualifikasikan masih dalam tahap berfikir operasional kongkrit. Siswa sekolah dasar masih belum mampu berfikir formal karena orientasinya masih terkait dengan benda-benda kongkrit. Maka dari pada itu pembelajaran matematika diarahkan kepada situasi permasalahan yang nyata (realistik)
 Menurut Dolk (dalam Aisyah, 2007:7.3) “bahwa kelas matematika bukan tempat memindahkan matematika dari guru ke siswa, melainkan tempat siswa menemukan kembali ide dan konsep matematika melalui eksplorasi masalah-masalah nyata”. Maka untuk menciptakan suatu pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan berorientasi pada masalah-masalah dan dunia nyata yang dekat dengan kehidupan siswa dengan kata lain untuk mematematikakan dunia nyata agar sisiwa dapat mengaitkan konsep matematika dengan pengalaman yang dialaminya adalah dengan Realistic Mathematic Education (RME) yang lebih dikenal dengan pendekatan matematika realistik, yakni pendekatan yang memandang kegiatan manusia dan harus dikaitkan dengan realitas. Artinya, matematika harus dekat dan relevan dengan kehidupan siswa sehari-hari, selanjutnya pembelajaran matematika dikemas sebagai preoses “penemuan kembali terbimbing”. Disini siswa dapat mengalami proses yang sama dengan proses penemuan ide dan konsep matematika. Hal ini merupakan suatu upaya yang diperkirakan dapat meningkatkan aktivitas belajar matematika siswa.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah: Apakah Pendekatan Matematika Realistik dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IV SDN No.05 Jawai?
Dari masalah umum maka dijabarkan lagi ke dalam sub-sub masalah sebagai berikut.
1.    Apakah pendekatan matematika realistik dapat meningkatkan aktivitas fisik siswa kelas IV SDN No.05 Jawai?
2.    Apakah pendekatan matematika realistik dapat meningkatkan aktivitas mental siswa kelas IV SDN No.05 Jawai?
3.    Apakah pendekatan matematika realistik dapat meningkatkan aktivitas emosional siswa kelas IV SDN No05 Jawai?
      
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan sub masalah maka yang menjadi fokus tujuan dalam penelitian ini melalui pendekatan matematika realistik adalah:
1.    Untuk memperoleh informasi yang akurat mengenai penggunaan pendekatan matematika realistik sehingga dapat  meningkatkan aktivitas fisik siswa kelas IV SDN No.05 Jawai,
2.    Untuk memperoleh informasi yang akurat mengenai penggunaan pendekatan matematika realistik sehingga dapat meningkatkan aktivitas mental siswa kelas IV SDN No.05 Jawai,
3.    Untuk memperoleh informasi yang akurat mengenai penggunaan pendekatan matematika realistik sehingga dapat  meningkatkan aktivitas emosional siswa kelas IV SDN No.05 Jawai

E. Metodologi Penelitian
1.      Metode dan Bentuk Penelitian Yang Digunakan
a.       Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif  yakni prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan obyek/subyek berdasarkan fakta-fakta yang tampak.
b.      Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian yang digunakan pada penelitian ini  adalah survey (survey studies) dengan jenis survey kelembagaan (Institutional Survey).
2.      Setting dan Subyek Penelitian
a.       Setting Penelitian
Setting yang digunakan pada penelitian ini adalah setting di dalam kelas karena berkaitan dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas.
b.      Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 05 Jawai.
Total siswa kelas IV          : 38 orang
Jumlah siswa laki-laki       : 20 orang
Jumlah siswa perempuan  : 18 orang

3.  Teknik dan Alat Pengumpul Data
a.    Teknik Pengumpul Data
Penelitian ini menggunakan teknik observasi dan teknik komunikasi. Teknik observasi yang digunakan adalah teknik langsung yang meliputi observasi partisipan dan non partisipan.
b.    Alat Pengumpul Data
Alat pengumpul data yang digunakan pada penelitian ini sesuai dengan teknik yang telah dipilih yaitu observasi dan komunikasi, maka alat pengumpul data yang digunakan untuk memperoleh informasi pada penelitian ini adalah lembar lembar observasi yang menjadi alat utama dalam mengumpulkan informasi serta penggunaan wawancara dan angket kepuasan sebagai penunjang lembar observasi untuk lebih memperkuat informasi yang akan diperoleh.
3. Teknik Analisis Data
Sesuai dengan penelitian ini, adapun teknik analisis data yang digunakan ialah mengumpulkan persentase data kualitatif yang diperoleh dari hasil observasi pada siklus I dan siklus II yang kemudian dibandingkan dengan data kualitatif yang diperoleh pada saat observasi awal (baseline), apakah terdapat peningkatan atau penurunan dan kemudian ditarik kesimpulan dari keseluruhan persentase data yang diperoleh.


 4.  Langkah-Langkah Tindakan
Adapun secara umum langkah-langkah tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.    Langkah persiapan dengan menetapkan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi, dan media pembelajaran yang akan digunakan untuk melaksanakan  penggunaaan pendekatan matematika realistik dalam pembelajaran matematika.
b.   Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran tentang penggunaan pendekatan matematika realistik dalam pembelajaran matematika.
c.    Melaksanakan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan matematika realistik.
d.   Membimbing siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan pembelajaran matematika realistik.
e.     Menghentikan pembelajaran setelah penggunaan pendekatan matematika realistik telah selesai dilakukan.
f.    Merefleksi proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan matematika realistik yang telah berlangsung.
g.   Menyimpulkan hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar